RSS

Category Archives: macam-macam jenis eksekusi

Hukuman Penyaliban

Penyaliban merupakan salah satu bentuk eksekusi yang terkejam yang pernah ada di dunia. Esensi dari penyaliban bukanlah kematian itu sendiri, melainkan penderitaan saat menjelang kematian. Dengan demikian, kematian merupakan suatu hal yang sangat diinginkan oleh orang yang disalib.
Berbeda dengan cara eksekusi terpidana mati pada masa sekarang, proses penyaliban memerlukan waktu yang relatif lama sehingga saat-saat penderitaanpun terasa sangat berat. Bandingkan hukuman gantung, kursi listrik, suntikan mati, kamar gas, tembak mati, pancung, dsb. yang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja menjelang kematian dengan penyaliban yang kadang-kadang membutuhkan waktu berjam-jam.

Daftar isi
• 1 Kebudayaan menyalib
• 2 Tata cara penyaliban
• 3 Pandangan Orang Yahudi atas penyaliban
• 4 Pandangan Kristen atas penyaliban

Kebudayaan menyalib
Penyaliban adalah salah satu bentuk hukuman yang diterapkan dalam kekaisaran Romawi, dan orang yang paling terkenal karena hukuman salib oleh pemerintah Romawi adalah Yesus. Pada zaman Yesus para pemberontak dan pelaku kriminal dihukum dengan cara disalib.

Tata cara penyaliban
Kedua tangan mereka biasa diikat dan kaki mereka diberi pijakan kayu dan mereka dijemur panas matahari dan menjadi tontonan orang-orang sebagai peringatan. Namun penyaliban Yesus seringkali dilukiskan kedua tangan dan kedua kaki Yesus dipakukan, yang menyebabkan Yesus kehilangan banyak darah ditambah dengan dijemur matahari.

Pandangan Orang Yahudi atas penyaliban
Selain itu dalam adat istiadat Yahudi, ada tertulis bahwa terkutuklah orang yang digantung di atas pohon (kayu atau balok kayu), sehingga hingga saat ini banyak orang Yahudi yang menganggap Yesus mati secara terkutuk.

Pandangan Kristen atas penyaliban
Dalam agama Kristen Yesus disalib untuk menebus dosa manusia, melalui Dia yang disalib, manusia yang berdosa digantikan atau ditebus dari penghukuman, sehingga semua dosa yang telah dilakukan digantikan melalui pengorbanan-Nya.

 
2 Comments

Posted by on January 18, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Hukuman Suntik mati

Kursi serta ranjang tempat di letakkannya seseorang untuk dieksekusi hukuman suntik mati

Suntik mati adalah suatu tindakan menyuntikkan racun berdosis tinggi pada seseorang untuk menyebabkan kematian. Penggunaan utamanya adalah untuk eutanasiabunuh diri, danhukuman mati. Sebagai metode hukuman mati, suntik mati mulai mendapat popularitas pada abad ke-20 untuk menggantikan metode lain seperti kursi listrikhukuman gantunghukuman tembakkamar gas, atau hukuman pancung yang dianggap lebih tidak berperikemanusiaan, walaupun masih terus diperdebatkan sisi kemanusiaannya. Pada eutanasia, suntik mati juga telah dipergunakan untuk memfasilitasi kematian sukarela pada pasien-pasien dengan kondisi terminal atau sakit kronis. Kedua penerapan ini menggunakan kombinasi obat yang serupa.

Pranala luar

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Hukuman bakar/pengeksekusian dengan di bakar

Eksekusi pembakaran (dikenal juga sebagai membakar hidup-hidup) adalah sebuah metode proses pembakaran dari hukuman mati kepada penjahat,klenikpenyihir (disuatu tempat terbiasa menghukum para penyihir dengan cara ini, dibandingkan dengan cara digantung, ditindih dengan beban atau bahkan ditenggelamkan). Metode ini sudah dikenal sejak zaman Ibrahim, dimana ia dibakar hidup-hidup olah Raja Namrudz. Pada abad ke-18 akhir, bahkan pada masa sekarang pun dianggap sebagai hukuman mati yang sadis dan tidak manusiawi.[1] Bentuk khusus dari eksekusi ini, dimana tertuduh akan diikat ketiang besar yang terletak ditengah-tengah tumpukan kayu. Menurut Talmud, kalimat ‘pembakaran’ yang disebutkan dalam bible telah dilakukan dengan cara melelehkan timah panas, kemudian dimasukkan kedalam kerongkongan si tertuduh, yang menyebabkan kematian secara cepat.
Refrensi:
^ In Wilkerson v. Utah (1878, pertaining to methods of capital punishment), the United States Supreme Court commented that drawing and quartering, public dissecting, burning alive and disemboweling would constitute cruel and unusual punishment while determining that death by firing squad was as legitimate as the common method of that time, hanging.

Jan Hus sedang dibakar ditiang pancang.

Membakar tiga penyihir diBaden Switzerland.

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Hukuman Menguliti (pengeksekusian dengan dikuliti)

ILLUSTRASI orang Assyrian sedang dieksekusi hukuman dikuliti

Menguliti adalah sebuah aktivitas mengangkat sebuah kulit dan biasa dilakukan dengan sebuah pisau. Proses ini biasa dilakukan terhadap binatang yang telah mati, sebagai salah satu persiapan untuk mengkonsumsi daging dan kulitnya digunakan untuk keperluan lain.

Menguliti bisa juga dilakukan terhadap manusia hidup sebagai salah satu bentuk hukuman. Ketika pengangkatan sebuah kulit terjadi terhadap seseorang, teramat sangat menyakitkan, ini adalah sebuah metode brutal dari sebuah eksekusi.

Daftar isi

[sembunyikan]

Etimologi

Menguliti berasal dari sebuah kata benda yaitu kulit. Banyak makna dari menguliti ini, diantaranya adalah:

  • Membeset (membuang, mengambil),
  • Memberi kulit; membalut (menyampul) dng kulit.

Hukuman menguliti zaman dahulu

Assyria

Bangsa Assyria telah mempraktekan hukuman menguliti terhadap tawanannya. Setelah di kuliti korban lalu di bakar hidup-hidup. Kulit kemudian di gantung dipintu gerbang kota, dengan maksud mendapatkan penghormatan dari bangsa Israel.

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Guillotine (alat hukuman pancung)

Replika guillotine Perancis era abad ke-17 dan ke-18.

Guillotine adalah sebuah alat untuk membunuh seseorang yang telah divonis hukuman mati dengan cepat dan ‘manusiawi’.

Guillotine menjadi terkenal pada Revolusi Perancis, tetapi sebenarnya sebelumnya sudah ada alat seperti ini. Guillotine dinamakan menurut Joseph Ignace Guillotin (17381814), yang menyarankan supaya memakai alat ini sebagai alat eksekusi. Ironisnya ia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan hukuman mati. Ia berharap bahwa alat’nya’ akan menghapuskan hukuman mati.

Pada Revolusi Perancis, dibutuhkan sebuah alat yang mampu mengeksusi para terdakwa secara cepat. Guillotine ini mencukupi persyaratan ini, maka di setiap desa di Perancis di tengah pasar lalu ditempatkan.

Lukisan Dr. Guillotin

Pada tanggal 25 April 1792, Nicolas Jacques Pelletier adalah korban pertama guillotine. Secara total pada Revolusi Perancis puluhan ribu orang dieksekusi menggunakan alat. Di Paris sendiri saja diperkirakan 40.000 orang dibunuh dengan guillotine, antara lain Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette.

Guillotine dirancang untuk membuat sebuah eksekusi semanusiawi mungkin dengan menghalangi sakit sebanyak mungkin. Terdakwa disuruh tidur tengkurap dan leher ditaruh di antara dua balok kayu di mana di tengah ada lubang tempat jatuhnya pisau. Pada ketinggian 7 meter, pisau dijatuhkan oleh algojo dan kepala terdakwa jatuh di sebuah keranjang di depannya.

Pemenggalan kepala dengan guillotine hanya berlangsung beberapa detik saja. Pendapat para dokter pada awal yang katanya orang baru kehilangan kesadarannya setelah 30 detik dihiraukan. Menurut pendapat para dokter modern, otak seseorang maksimal hanya bisa sadar selama 10 detik saja.

Eksekusi dengan guillotine kala itu menjadi tontonan umum, tetapi kemudian guillotine ditaruh di dalam penjara karena dianggap kejam. Terdakwa terakhir yang dihukum mati dengan alat ini adalah Hamida Djandoubi. Ia dieksekusi di Marseille pada tanggal 10 September 1977.

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Hukuman pancung

Lukisan hukuman pancung

Memancung adalah tindakan memisahkan kepala dari badan manusia atau binatang. Biasanya dilakukan dengan kapak, pedang, maupun guillotine. Kata lain dari memancung adalah memenggal dan seseorang yang mengeksekusi disebut Pemancung/ Pemenggal.

Kalimat memancung bisa merujuk kepada sebuah acara/ upacara tertentu, untuk memisahkan kepala dari badan yang telah mati. Pemenggalan kepala ini biasanya untuk sebuah piala, sebuah peringatan, untuk menghilangkan identitas korban, krionik dan alasan lainnya.

Pemenggalan leher sangat fatal akibatnya, dalam hitungan detik ke menit ketika terjadi adanya kematian pada otak tanpa sokongan salah satu anggota tubuh.

Daftar isi

  • 1 Sejarah
  • 2 Tokoh terkenal yang dihukum pancung

    Sejarah

    Memancung telah digunakan sebagai salah satu bentuk hukuman yang telah dilakukan selama pada masa seribu tahun. Pemancungan dengan menggunakan pedang, kapak, bahkan dengan senjata militer terkadang dianggap sebagai salah satu cara terhormat untuk mati bagi seorang bangsawan, yang beranggapan bahwa sebagai prajurit, sudah seharusnya berharap mati dengan pedang dalam situasi apapun. Di Inggris ada anggapan bahwa pemancungan sebagai hak istimewa para pria terhormat. Pemancungan ini membedakan dari hukuman tidak terhormat (keji) dari membakar seseorang hidup-hidup diatas tumpukan kayu. Pada abad pertengahan di Inggris, sebuah pengkhianatan yang dilakukan oleh bangsawan akan dihukum pancung, bagi para pelaku bangsawan pria, termasuk ksatria, akan digantung, diseret dan ditarik dengan kuda. Untuk pelaku wanita akan dibakar hidup-hidup di atas tumpukan kayu.

    Tokoh terkenal yang dihukum pancung

Kepala bajak laut dipamerkan sebagai trofi setelah kematiannya

Alkitab

Tiongkok

Guan Yu

Puteri Jane Grey siap meletakkan lehernya di ganjalan. Di Inggris, kebanyakan pemancungan dilakukan dengan kapak dan ganjal.

Inggris

Amerika Kolonial

Revolusi Perancis

] Irak

Swiss

Arab Saudi

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 

Hukuman pukulan rotan

Hukuman pukulan rotan adalah sebuah hukuman tindak pidana yang berlaku di Malaysia dan Singapura.

Undang-undang mengenai pukulan rotan

Jumlah pukulan rotan terbanyak yang bisa dikenakan kepada seorang terdakwa menurut undang-undang Malaysia ialah 24 kali pukulan rotan. Terdapat dua jenis rotan yang digunakan:

  • Rotan jenis tipis, yang digunakan untuk kasus sogok-menyogok, kesalahan korupsi, dan kriminalitas kerah putih;
  • Rotan jenis tebal, yang digunakan untuk tindak kejahatan serius, umpamanya kasus perkosaan dan kejahatan seksual.

Rotan jenis tipis tidak begitu merusakkan badan, tetapi lebih menyakitkan. Pukulan rotan dengan rotan tebal yang melebihi lima kali bisa mengakibatkan impotensi dan mati rasa dari punggung ke bawah, dimana hal tersebut sukar disembuhkan. Oleh karena sakitnya pukulan rotan yang begitu dahsyat, undang-undang Malaysia telah memberi pengecualian pada kategori-kategori di bawah terhindar dari hukuman tersebut:

  • Perempuan, karena pukulan rotan bisa mengganggu kesehatan kandungan;
  • Lelaki berumur 50 tahun keatas;
  • Orang yang disahkan tidak sehat oleh dokter; dan
  • Orang gila

Aturan hukum pukulan rotan (Merotan)

Pada hari hukuman merotan dilaksanakan, para terhukum yang terlibat akan memperoleh pemeriksaan kesehatan. Mereka akan berbaris dalam sebuah barisan untuk giliran masing-masing di tempat yang mana lokasi pelaksanaan hukuman merotan tidak bisa terlihat oleh mereka.

Pejabat Penjara Negeri Johor akan menyaksikan pelaksanaan merotan, bersama-sama dengan seorang dokter dari Rumahsakit Sultanah Aminah dan seorang pegawai penjara. Pemeriksaan teliti lalu diambil supaya hukuman merotan tidak dijatuhkan kepada orang yang salah.

Petugas penjara akan membacakan hukuman kepada terhukum, dan memintanya mengesahkan adakah hukuman yang terbaca itu betul atau tidak. Ia juga akan menanyakan terhukum tersebut apakah pembelaan telah dibuat. Jika belum, hukuman merotan akan ditangguhkan sehingga keputusan pembelaan dinyatakan.

Patung terpidana yg diikat ke rangka berbentuk “A”. Dalam gambar ini, kepalanya masih belum diletakkan dibawah kayu melintang.

Terdakwa masih dalam keadaan telanjang selepas pemeriksaan kesehatan, kecuali sehelai penutup yang diikatkan di pinggang. Sewaktu dirotan, tangan dan punggungnya diikat kepada suatu rangka berbentuk “A”. Kepalanya diletakkan dibawah sebatang kayu melintang supaya badannya membungkuk.

Algojo yang melaksanakan hukuman merotan haruslah kompeten dan disahkan melalui ujian/tes oleh pengadilan. Saat ini, mereka akan dibayar RM10.00 (atau sekitar 26 ribu rupiah menurut kurs sekarang) untuk setiap rotan, yang mana sebelumnya untuk tugas ini algojo dibayar RM1.00, atau sekitar duaribu enam ratus rupiah per satu rotan).

Dalam pelaksanaan tugasnya, algojo harus diberi waktu yang cukup. Pegawai penjara yang bertugas menghitung jumlah pukulan rotan tidak boleh menentukan waktu untuk pukulan rotan selanjutnya. Tugasnya cuma memastikan terhukum tidak dikenakan rotan yang melebihi atau kurang daripada apa yang ditetapkan oleh pengadilan.

Algojo akan memulai pelaksanaan hukuman dengan memegang rotan secara mendatar diatas kepalanya. Lokasi tempat pelaksanaan hukuman harus dalam keadaan tenang dan sunyi. Apabila algojo telah siap, maka ia akan melepaskan tangan kirinya dan mengayunkan rotan kearah punggung terpidana dengan sekuatnya, seperti pemain golf mengayunkan pemukul. Untuk mencapai akibat yang paling dahsyat, algojo perlu memastikan bahawa ujung rotan digunakan untuk memukul terhukum.

Rotan yang direndam dengan cairan “Pemutih Clorox” untuk membunuh kuman, juga akan meningkatkan kesakitan terhukum. Kulit punggung akan lebam/memar bila dirotan satu kali. Dan jika pukulan rotan lebih dari lima kali dikenakan, kulit punggung terpidana akan terkelupas robek dan mulai berdarah.

Semua hukuman merotan harus dijalankan dalam satu kesempatan. Sekiranya terhukum pingsan, atau dokter memerintahkan agar pelaksanaan hukuman dihentikan karena terdakwa tidak bisa melanjutkan hukuman nya saat itu (jika terlalu berbahaya bagi terpidana dan dapat menyebabkan kematian), pelaksanaan hukuman rotan akan dihentikan. Sebuah permohonan akan dibuat kemudian pada pengadilan supaya sisa hukuman rotan digantikan dengan hukuman kurungan. Biasanya, setiap rotan disamakan dengan lima atau enam bulan pengurungan.

Rotan yang sudah dipakai bisa digunakan kembali. Walaupun demikian, tindakan pencegahan perlu diambil untuk terpidana yang mengidap HIV/AIDS. Rotan yang baru akan digunakan untuk kasus tersebut, dan selesai digunakan, rotan itu akan dibakar. Algojo juga dikehendaki memakai alat perlindungan, sarung tangan dan topeng kaca penutup mata, ditakutkan daging dan darah terpidana yang menderita HIV/AIDS akan mengenai tubuh algojo.

Selesai dirotan, terpidana akan diantarkan ke klinik penjara untuk mendapatkan perawatan. Terhukum akan dirumahsakitkan sehingga luka-lukanya sembuh, tergantung pada ketersediaan tempat tidur di klinik penjara. Sementara waktu, terhukum terpaksa berbaring dengan bagian perut menghadapi kasur, karena punggung yang telah cedera.

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2010 in macam-macam jenis eksekusi

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.